Maltodekstrin dalam Susu Anak: Cara Memahami Labelnya

Kesehatan

Maltodekstrin dalam susu anak kerap membuat orang tua bertanya-tanya: apakah bahan ini berbahaya, atau sekadar nama lain dari gula? Para ahli mengingatkan, keberadaannya tidak perlu langsung memicu kepanikan. Namun, kandungan dan jumlah konsumsinya tetap perlu diperhatikan sebagai bagian dari asupan harian anak.

Maltodekstrin merupakan karbohidrat yang dihasilkan dari pengolahan pati tumbuhan. Bahan bakunya dapat berupa jagung, beras, kentang, atau gandum. Melalui proses hidrolisis, molekul pati dipecah menjadi rantai karbohidrat yang lebih pendek.

Dosen Teknologi Pangan Universitas Pelita Harapan, Julia R. Wijaya, menjelaskan bahwa maltodekstrin tetap menyumbang karbohidrat dan energi. “Sebagai karbohidrat hasil hidrolisa pati, maltodekstrin tetap berkontribusi terhadap asupan energi, dan ini sudah pasti diperhitungkan sebagai bagian dari karbohidrat total,” ujarnya.

Karakteristiknya berbeda dari gula sederhana, tetapi tubuh dapat mencerna maltodekstrin dan memanfaatkannya sebagai sumber energi. Karena itu, orang tua sebaiknya memahami perannya, bukan hanya menilai suatu produk dari ada atau tidaknya satu bahan pada daftar komposisi.

Fungsi maltodekstrin dalam susu dan pangan

Dalam industri pangan, maltodekstrin digunakan untuk membantu membentuk tekstur, menambah volume, dan menjaga kestabilan produk. Pada susu, sifat fisiknya dapat membantu mempertahankan konsistensi dan kelarutan. Bahan ini juga dapat mendukung penyebaran vitamin dan mineral agar lebih merata.

Fungsi tersebut berkaitan dengan proses pembuatan produk, bukan ukuran tunggal untuk menentukan mutu gizinya. Kandungan maltodekstrin tidak serta-merta menjelaskan apakah suatu susu lebih baik atau lebih buruk bagi anak. Penilaian perlu mencakup keseluruhan komposisi dan kecocokannya dengan kebutuhan anak.

Dokter spesialis gizi klinik konsultan, dr. Diana Sunardi, M.Gizi, SpGK(K), menjelaskan bahwa pencernaan menguraikan maltodekstrin hingga menghasilkan glukosa. Tubuh kemudian menggunakan glukosa untuk memenuhi kebutuhan energi. Proses itu menjadi alasan mengapa asupan karbohidrat dari bahan tersebut tetap perlu masuk dalam perhitungan.

Dengan demikian, orang tua dapat membandingkan kandungan protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral pada label kemasan. Ukuran sajian serta frekuensi konsumsi juga patut diperhatikan. Melihat satu bahan secara terpisah berisiko membuat gambaran tentang nilai gizi produk menjadi tidak utuh.

Perhatikan jumlah dan asupan gula harian

Karena maltodekstrin diuraikan menjadi glukosa, konsumsinya dapat berpengaruh terhadap kadar gula darah. Besarnya pengaruh dan kebutuhan setiap anak dapat berbeda, bergantung pada kebutuhan energi, pola makan, aktivitas, serta kondisi kesehatannya. Itu sebabnya, jumlah konsumsi tetap menjadi hal penting untuk dicermati.

Dokter spesialis gizi klinik RS Permata Depok, dr. Felianty Bedralany, Sp.G.K., mengingatkan agar maltodekstrin tidak dianggap otomatis lebih aman ketika digunakan sebagai pengganti gula. “Sebetulnya maltodekstrin juga merupakan suatu gula tambahan ya. Jadi memang harus diperhatikan nih jumlahnya juga karena dia akan menambahkan total gula dalam 1 hari untuk yang kita konsumsi,” katanya.

Menurut Felianty, mengganti gula dengan maltodekstrin tidak serta-merta menghilangkan hal yang perlu diperhatikan dalam konsumsi. Kandungan tersebut tetap perlu dilihat bersama total asupan sehari-hari. Orang tua bisa memeriksa jumlah karbohidrat, gula, dan ukuran sajian pada label, lalu mempertimbangkan seberapa sering susu diberikan.

Langkah ini membantu orang tua mengambil keputusan berdasarkan kebutuhan anak dan komposisi produk secara keseluruhan, bukan semata-mata karena satu istilah pada kemasan. Bila terdapat kondisi kesehatan tertentu atau keraguan mengenai pola konsumsi, kebutuhan anak dapat dibicarakan dengan tenaga kesehatan.

Klaim tentang usus perlu dipahami cermat

Maltodekstrin juga kerap dikaitkan dengan gangguan mikrobiota usus dan inflammatory bowel disease (IBD). Namun, klaim tersebut tidak dapat disimpulkan secara sederhana. Informasi yang tersedia menekankan bahwa bukti ilmiah mengenai kaitan itu masih memerlukan pemahaman yang cermat.

Karena itu, orang tua sebaiknya tidak langsung menyamakan keberadaan maltodekstrin dalam susu dengan risiko gangguan kesehatan tertentu. Di sisi lain, kehati-hatian tetap diperlukan: perhatikan komposisi, jumlah yang dikonsumsi, dan pola makan anak secara menyeluruh. Memahami label gizi dengan tenang dapat membantu keluarga memilih produk secara lebih terarah.