Andry Hakim berpotensi mencatat keuntungan hingga 1.307 persen dari investasinya di PT Guna Timur Raya Tbk (TRUK), ketika harga saham perusahaan transportasi itu menanjak ke Rp 6.025 pada Rabu, 21 Oktober 2026. Kenaikan tersebut terjadi di tengah gejolak pasar yang dipicu konsultasi MSCI mengenai kemungkinan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia.
Perhitungan itu mengacu pada harga pembelian Rp 428 per saham dan mengasumsikan tidak ada transaksi jual-beli. Dengan asumsi tersebut, nilai saham TRUK yang dimiliki entitas Andry meningkat dari Rp 9,3 miliar menjadi sekitar Rp 131 miliar. Potensi keuntungan di atas kertasnya mencapai sekitar Rp 121 miliar.
Angka itu belum tentu mencerminkan keuntungan yang telah direalisasikan. Nilai investasi dapat berubah mengikuti pergerakan harga saham, sementara sumber berita menyebut perhitungan tersebut dibuat dengan asumsi kepemilikan tidak mengalami perubahan.
Investasi TRUK dibeli pada harga Rp 428 per saham
Andry, pendiri sekaligus chief investment officer Hakimson.id, masuk ke TRUK bersama Gabriel Rey. Secara gabungan, keduanya menguasai 20 persen saham perusahaan tersebut.
Rinciannya, PT Pukul Rata Kanan, perusahaan milik Gabriel Rey, membeli 65,25 juta saham atau setara 15 persen kepemilikan. Transaksi itu dilakukan pada harga Rp 428 per saham dengan nilai sekitar Rp 27,9 miliar.
Sementara itu, Hakimson Growth Capital, entitas Andry Hakim, membeli 21,75 juta saham atau 5 persen dari TRUK. Nilai pembelian tersebut mencapai sekitar Rp 9,3 miliar pada harga yang sama, yakni Rp 428 per saham.
Setelah pembelian itu, harga TRUK bergerak naik tajam. Pada perdagangan 21 Oktober, saham tersebut melonjak 19,9 persen ke Rp 6.025 dan kembali menyentuh batas atas auto rejection (ARA). Kenaikan dari harga beli Rp 428 itu setara sekitar 1.307 persen.
Saham TRUK menguat saat pasar dihantam isu MSCI
Lonjakan TRUK berlangsung ketika pasar saham Indonesia menghadapi tekanan terkait usulan MSCI untuk menurunkan status Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Pada Jumat, 16 Oktober 2026, ketika IHSG merosot 11,5 persen ke level 5.185, TRUK justru menyentuh ARA.
Dalam sepekan terakhir hingga periode pemberitaan, saham TRUK naik 87,1 persen. Kenaikan dalam sebulan mencapai 324,3 persen, sedangkan secara year to date (YtD) saham itu terbang 1.026 persen. Pergerakan tersebut memperlihatkan kontras antara tekanan pasar secara umum dan penguatan saham TRUK.
Namun, lonjakan harga saham tidak dengan sendirinya menjelaskan arah bisnis perusahaan ke depan. Dalam podcast yang disiarkan Stockbit, Andry menyebut Guna Timur Raya memiliki sekitar 90 armada truk dan sebelumnya ada rencana untuk menambah jumlah armada.
Ia juga mengatakan dirinya dan Gabriel Rey memiliki rencana lain untuk perusahaan tersebut, tetapi belum dapat mengungkapkannya. Andry membuka kemungkinan bahwa kepemilikan mereka di TRUK dapat bertambah seiring waktu, seraya menyebut sudah ada kesepakatan di antara mereka.
“Kalau saya sama Gabriel Rey, ada rencana lain. Tapi kita belum bisa ngomong,” ujar Andry.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan perubahan pengendali atau arah bisnis TRUK, Andry belum memberikan jawaban pasti. Ia hanya menyatakan masih banyak peluang yang bisa dikembangkan di perusahaan tersebut.
MSCI soroti pengawasan pasar saham Indonesia
Di tengah gejolak itu, MSCI menyatakan konsultasi soal kemungkinan penurunan klasifikasi Indonesia didasarkan pada masukan pelaku pasar serta kerangka penilaian yang objektif. Persoalannya, menurut penyedia indeks global tersebut, bukan semata-mata soal indeks, melainkan kebutuhan reformasi pasar yang lebih menyeluruh.
MSCI menyoroti perlunya pengawasan yang efektif untuk mendeteksi dan mencegah praktik perdagangan tidak sehat. Catatan yang dikutip Stockbit dari Bloomberg juga menyebut kekurangan teknologi dan sistem pemantauan perdagangan dapat menyulitkan identifikasi transaksi tidak wajar. Indonesia, menurut catatan tersebut, perlu meyakinkan MSCI dan investor global bahwa regulator mampu menjaga integritas pasar.
MSCI juga menyarankan strategi pencegahan manipulasi yang tidak hanya bertumpu pada sanksi keuangan. Karena itu, perkembangan konsultasi dan respons regulator akan menjadi perhatian investor, bersamaan dengan kinerja masing-masing emiten. Bagi pemegang saham TRUK, penguatan harga yang tajam tetap perlu dibedakan dari keuntungan yang sudah direalisasikan dan dari kepastian rencana bisnis perusahaan.
