Ingatan tentang peristiwa traumatis dapat muncul kembali bertahun-tahun setelah kejadian berlalu. Bagi sebagian orang, pengalaman itu hadir sebagai mimpi buruk, kilas balik, atau rasa takut yang kuat—seolah-olah peristiwa tersebut sedang terjadi lagi. Kondisi ini bukan semata-mata soal sulit melupakan masa lalu, tetapi dapat berkaitan dengan gangguan stres pascatrauma atau post-traumatic stress disorder (PTSD).
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan, PTSD dapat terjadi setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa yang sangat mengancam atau mengerikan. Gejalanya antara lain pengalaman traumatis yang berulang, kecenderungan menghindari hal-hal yang mengingatkan pada kejadian, serta perasaan terus-menerus berada dalam ancaman.
Bagaimana trauma membuat masa lalu terasa dekat?
Salah satu gejala utama PTSD adalah re-experiencing, yakni mengalami kembali peristiwa traumatis melalui ingatan yang mengganggu, mimpi buruk, atau kilas balik. Kenangan itu bisa muncul sebagai gambaran visual, suara, bahkan aroma yang berkaitan dengan kejadian sebelumnya.
Dalam episode kilas balik, seseorang dapat merasa seolah-olah kembali berada di tempat dan waktu saat peristiwa traumatis terjadi. Rasa takut atau tidak nyaman yang muncul pun bisa terasa sangat kuat, meski peristiwa aslinya sudah lama berlalu.
National Center for PTSD, lembaga di bawah Departemen Urusan Veteran Amerika Serikat, menjelaskan bahwa ingatan traumatis dapat memuat informasi tentang bahaya yang dialami. Hal itu bisa membuat seseorang lebih waspada terhadap situasi yang memiliki kemiripan dengan pengalaman sebelumnya.
Respons waspada tersebut berkaitan dengan upaya mengenali bahaya. Namun, ketika reaksi itu muncul di situasi yang sebenarnya aman, tekanan emosional dapat mengganggu kehidupan sehari-hari. Perhatian seseorang mungkin terus tertarik pada pengalaman yang menyakitkan, sehingga keadaan saat ini terasa sulit dinikmati.
Pemicu trauma dapat berupa suara, tempat, atau situasi
Ingatan traumatis dapat muncul kembali karena pemicu atau trigger. Pemicu adalah sesuatu yang mengingatkan seseorang pada pengalaman traumatis, misalnya tempat, orang, suara, aroma, atau situasi tertentu.
Menurut National Center for PTSD, pengingat trauma dapat memicu reaksi emosional dan respons tubuh yang berkaitan dengan pengalaman terdahulu. Seseorang yang pernah mengalami hubungan penuh kekerasan, misalnya, mungkin merasa cemas ketika mendengar nada bicara yang menyerupai pelaku.
Contoh lainnya, orang yang pernah mengalami kecelakaan dapat merasa takut saat mendengar suara benturan keras atau melewati lokasi kejadian. Situasi yang dihadapi sekarang belum tentu berbahaya, tetapi kemiripan dengan pengalaman lama dapat membuat ancaman terasa kembali hadir.
Karena itu, respons seseorang terhadap pemicu tidak selalu berarti ia tidak mau melangkah maju. Ingatan dan reaksi emosionalnya dapat muncul tanpa dikehendaki. Memahami hal ini membantu kita melihat pengalaman tersebut dengan lebih empatik, bukan menganggapnya sebagai pilihan untuk terus terjebak di masa lalu.
Menghindar bisa terasa melegakan, tetapi membatasi
Selain mengalami kembali ingatan, seseorang dengan PTSD dapat berusaha menjauhi hal-hal yang mengingatkannya pada peristiwa traumatis. WHO menyebut penghindaran dapat mencakup tempat, aktivitas, orang, pikiran, atau kenangan yang berkaitan dengan kejadian tersebut.
Dalam keseharian, seseorang mungkin memilih tidak membicarakan pengalaman yang menyakitkan, menjauhi situasi tertentu, atau menghindari hubungan baru karena takut terluka. Menghindar bisa mengurangi rasa tidak nyaman untuk sementara, tetapi juga berpotensi membuat ruang gerak dan pilihan hidup semakin terbatas.
Kesulitan menghadapi pemicu dan ingatan traumatis bukan sesuatu yang perlu dicela. Namun, bila ketakutan atau kenangan tersebut mengganggu kehidupan, mencari bantuan profesional dapat menjadi pilihan. Proses pemulihan tidak harus dijalani sendirian.
Pemulihan trauma dapat dibantu secara terarah
Psikiater dr. Jiemi Ardian memperkenalkan Trauma Processing Therapy (TPT) dalam bukunya, Pulih dari Trauma. Pendekatan ini berfokus pada pengolahan memori menyakitkan, bukan sekadar mengingat atau menceritakan kejadian. Dalam materi tentang buku tersebut, TPT dijelaskan sebagai cara untuk memahami dan memproses pengalaman traumatis secara aman dan terarah.
Buku itu juga memuat latihan singkat yang dapat dipraktikkan sendiri. Namun, bila prosesnya terasa berat, bantuan profesional tetap dapat diminta. Pendekatan yang dijelaskan tersebut menempatkan trauma sebagai memori dan respons yang masih memengaruhi kehidupan saat ini—sesuatu yang dapat diolah, bukan sekadar sesuatu yang harus dilupakan.
Setiap orang memiliki pengalaman dan respons yang berbeda. Memahami pemicu, mengenali dampaknya, serta membuka diri terhadap bantuan yang sesuai dapat menjadi langkah untuk menghadapi hari ini dengan lebih tenang. Pemulihan mungkin membutuhkan waktu, tetapi masa lalu tidak harus terus menentukan seluruh kehidupan seseorang.
