Transaksi Lewat HP, Banyak Pengguna Abaikan Antivirus

Teknologi

Penggunaan ponsel untuk mobile banking dan belanja online belum diimbangi perhatian yang sama terhadap keamanan perangkat. Kesenjangan itu menjadi sorotan dalam riset Global Anti Scam Alliance (GASA) yang dikutip dalam pengumuman kemitraan Bitdefender dan PT Gema Informatika Abadi (GIA) di Jakarta, Kamis (8/10/2026).

Riset tersebut menggambarkan banyak pengguna aktif bertransaksi lewat ponsel, tetapi mengabaikan perlindungan keamanan mobile. Bahan yang disampaikan tidak mencantumkan angka persentase ataupun rincian metode riset, tetapi temuan itu menegaskan adanya jarak antara intensitas aktivitas digital dan kesadaran menjaga perangkat.

Ketimpangan tersebut penting karena ponsel kerap menjadi pintu masuk ke beragam aktivitas pribadi dalam satu perangkat. Di sana, pengguna bisa mengakses layanan keuangan, berbelanja, menyimpan data, dan berkomunikasi. Jika keamanan perangkat luput diperhatikan, risiko tidak berhenti pada gangguan saat menggunakan aplikasi.

Aktivitas perbankan dan belanja memperbesar risiko

Menurut paparan dalam sumber, perangkat mobile berpotensi menjadi sasaran peretas untuk mencuri data pribadi, membobol akun perbankan, hingga menguras saldo korban. Ancaman itu berkaitan dengan kebiasaan pengguna yang menjadikan ponsel sebagai alat transaksi sekaligus tempat mengakses informasi sensitif.

Risiko keamanan siber tidak selalu terlihat ketika pengguna membuka aplikasi atau menyelesaikan pembayaran. Karena itu, kenyamanan bertransaksi melalui ponsel perlu disertai perhatian terhadap perlindungan data dan identitas. Pengguna yang merasa aktivitasnya rutin dan aman pun tetap perlu memahami bahwa perangkat yang sama menyimpan akses ke banyak layanan.

Direktur PT GIA, Jack Chok, mengatakan konsumen kini menggunakan internet untuk aktivitas perbankan, belanja, dan berhubungan dengan teman. Menurut dia, kondisi tersebut membuat perlindungan data pribadi serta identitas semakin penting.

“Konsumen saat ini melakukan aktivitas perbankan, berbelanja, dan tetap terhubung dengan teman secara online, sehingga perlindungan terhadap data pribadi dan identitas menjadi semakin penting,” ujar Jack Chok.

Jack menyampaikan hal itu saat menjelaskan kerja sama perusahaannya dengan Bitdefender. Ia menyebut kemitraan tersebut ditujukan untuk memberi masyarakat akses terhadap perlindungan yang tepercaya.

Bitdefender gandeng distributor eksklusif di Indonesia

Bitdefender menggandeng PT GIA sebagai distributor eksklusif untuk menyalurkan solusi keamanan siber bagi rumah tangga dan perangkat mobile di Indonesia. Kemitraan itu diumumkan pada 8 Oktober 2026. Perusahaan menyebut langkah tersebut sebagai upaya memperluas akses perlindungan bagi pengguna di tengah meningkatnya kerentanan perangkat mobile.

Lini produk yang diperkenalkan mencakup perangkat dengan sistem operasi Android, iOS, Windows, dan macOS. Solusi itu dirancang untuk melindungi transaksi online, mencegah peretasan aplikasi finansial, serta mengunci data sensitif ketika pengguna tersambung ke jaringan publik maupun jaringan rumah.

Informasi yang disampaikan belum merinci harga, paket, atau fitur per produk. Karena itu, pengguna yang mempertimbangkan solusi keamanan tersebut perlu mencermati keterangan produk yang tersedia sebelum memilih perlindungan sesuai perangkat dan kebutuhan masing-masing.

Di luar pilihan perangkat lunak, kewaspadaan tetap menjadi bagian penting dari keamanan digital. Pengguna dapat menilai kembali kebiasaan saat bertransaksi dan memperhatikan data yang disimpan atau dibagikan melalui ponsel. Perlindungan perangkat bukan jaminan bahwa seluruh risiko hilang, tetapi dapat menjadi salah satu lapisan pengamanan yang patut dipertimbangkan.

Kerja sama Bitdefender dan PT GIA hadir ketika aktivitas keuangan serta belanja semakin bergantung pada ponsel. Tantangan berikutnya adalah memastikan akses terhadap solusi keamanan diikuti pemahaman pengguna tentang cara melindungi data dan identitasnya. Kebiasaan digital yang aman perlu berjalan beriringan dengan teknologi perlindungan.