Peneliti AI asal China Nathan Chen meninggalkan Moonshot AI setelah bekerja kurang dari setahun. Keputusan itu diumumkan pada 15 Oktober, beberapa bulan setelah ia ikut mengembangkan teknologi yang digunakan dalam Kimi K3, model kecerdasan buatan perusahaan yang bersaing dengan sistem buatan Amerika Serikat.
Chen bergabung dengan Moonshot saat berusia 16 tahun dan masih duduk di bangku SMA. Kini, setelah lulus pada Juni, remaja kelahiran Shenzhen pada 2009 itu belum memastikan apakah akan melanjutkan kuliah atau tetap menekuni riset AI. Kepergiannya pun memunculkan pertanyaan tentang langkah berikutnya, terutama karena sejumlah peneliti dari perusahaan AI Amerika Serikat menunjukkan minat untuk bertemu dengannya.
Namun, Chen telah menepis dugaan bahwa ia akan bergabung dengan Anthropic. Ia mengonfirmasi di X bahwa dirinya berencana bepergian ke San Francisco, tetapi mengatakan tidak akan masuk ke perusahaan tersebut. Belum ada keputusan publik mengenai universitas atau tempat kerja berikutnya.
Dari belajar mandiri ke tim pengembang Kimi
Jalan Chen menuju industri AI tidak dimulai dari gelar universitas atau kemenangan di kompetisi sains. Ia mulai mempelajari kecerdasan buatan pada 2024, ketika masih SMA. Untuk memahami teori dan konsep yang rumit, ia membaca makalah penelitian secara mandiri dan menggunakan chatbot Gemini dari Google sebagai alat bantu belajar.
Perhatian terhadap karyanya mulai tumbuh setelah ia menulis blog tentang teknik AI pada Mei 2025. Tulisan itu menarik perhatian Yang Songlin, peneliti yang saat itu menempuh studi doktoral di Massachusetts Institute of Technology. Kepala Tilde Research, perusahaan rintisan AI di Amerika Serikat, juga menghubungi Chen untuk membicarakan pekerjaan di perusahaan tersebut.
Dua bulan kemudian, Chen berangkat sendiri ke Palo Alto, California, untuk menjalani magang selama tujuh minggu di Tilde Research. Ia bekerja bersama peneliti yang lebih berpengalaman dan, menurut laporan detikInet yang mengutip VN Express, pernah menghabiskan hingga 15 jam sehari di kantor.
Sepulangnya ke China, Chen semula berharap menyelesaikan tahun terakhir SMA. Moonshot AI kemudian menawarkan posisi di tim riset Kimi. Di sana, ia membantu mengembangkan teknologi yang bertujuan membuat model AI bekerja lebih cepat dan efisien.
Riset yang dipakai dalam Kimi K3
Salah satu karya yang mengangkat namanya adalah makalah berjudul Attention Residuals, yang terbit pada Maret. Chen menjadi satu dari tiga penulis dengan kontribusi setara, bersama peneliti senior Su Jianlin dan Zhang Yu. Makalah itu memperkenalkan teknik untuk meningkatkan cara model AI mengolah informasi.
Teknik tersebut kemudian diterapkan pada Kimi K3. Peluncuran model ini menarik perhatian karena kemampuannya disebut dapat menandingi sistem AI terkemuka dari Amerika Serikat dengan biaya yang jauh lebih rendah. Riset tim Moonshot itu juga mendapat perhatian dari luar perusahaan, termasuk pujian Elon Musk dan mantan peneliti OpenAI Andrej Karpathy, sebagaimana diberitakan detikInet.
Pengakuan itu tidak membuat Chen menganggap riset tersebut sebagai pencapaian pribadi semata. Dalam wawancara dengan China Newsweek, ia menolak label jenius dan meminta orang-orang tidak mengidolakannya. Ia menekankan bahwa pekerjaan tersebut merupakan hasil kolaborasi tim.
Moonshot kehilangan seorang peneliti muda yang ikut mengerjakan salah satu teknologi pentingnya, tetapi belum ada keterangan bahwa kepergian Chen mengubah rencana pengembangan Kimi. Rekannya di perusahaan, Du Yulun, menyayangkan keputusan tersebut, namun mendukung keinginan Chen untuk mencoba peluang lain selagi masih muda.
Belum menentukan kuliah atau pekerjaan berikutnya
Ketertarikan terhadap Chen datang saat persaingan perusahaan teknologi China dan Amerika Serikat untuk mendapatkan talenta AI berlangsung ketat. Sholto Douglas, peneliti Anthropic, menanyakan apakah Chen masih berniat kuliah di Carnegie Mellon University dan mengundangnya ke San Francisco untuk bertemu peneliti lain. Undangan itu belum menjadi tanda bahwa Chen akan bekerja di sana.
Perjalanan ke San Francisco yang ia sebutkan juga belum menjawab apakah ia akan kembali ke dunia riset perusahaan, mengambil pendidikan tinggi, atau memilih jalur lain. Sampai laporan detikInet diterbitkan, Chen belum mengonfirmasi rencana studi maupun pekerjaan selanjutnya.
Pengalaman Chen bukan satu-satunya contoh pelajar SMA China yang terlibat dalam riset AI dan mendapat perhatian internasional. Tu Jinhao, mantan pemagang DeepSeek, ikut menulis penelitian tentang model R1 ketika masih bersekolah di Shanghai. Ia memulai studi sarjana di University of Wisconsin-Madison pada September 2025.
Bagi Chen, langkah setelah Moonshot masih terbuka. Kepastian yang ada sejauh ini hanya rencana perjalanan ke San Francisco dan penolakannya untuk bergabung dengan Anthropic. Pilihan pendidikan maupun pekerjaan berikutnya belum diumumkan.
