Film AI Sanxingdui Raup 1,21 Juta Yuan

Hiburan

Sanxingdui: Future Past, film panjang berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mendapat izin tayang resmi di China, baru mengumpulkan 1,21 juta yuan hingga Senin setelah dirilis. Pendapatan itu setara sekitar Rp 2,7 miliar, jauh dari biaya produksi sebesar 10 juta yuan atau sekitar Rp 22,7 miliar.

Film produksi Bona Film Group tersebut diputar dalam lebih dari 10.000 sesi bioskop. Namun, jangkauan penayangan itu belum berbanding lurus dengan minat penonton. Pada hari pertama, penjualan tiket prarilisnya hanya mencatat 80.000 yuan, setara kurang lebih Rp 180 juta.

Menurut laporan detikcom, angka pendapatan kotor Sanxingdui: Future Past baru mencakup sekitar 12 persen dari ongkos pembuatannya. Capaian tersebut memperlihatkan tantangan yang dihadapi film yang mengandalkan teknologi baru: mendapat tempat di bioskop tidak otomatis membuat penonton datang.

Teknologi besar, hasil awal belum sepadan

Sanxingdui: Future Past dikerjakan hampir 100 orang selama dua tahun. AI digunakan dalam pembuatan karakter, suara, serta latar visual. Skala pengerjaan dan pemanfaatan teknologi itu menjadikan film ini proyek yang ambisius bagi Bona Film Group.

Akan tetapi, hasil awal di loket tiket masih jauh dari modal yang dikeluarkan. Dengan pendapatan 1,21 juta yuan dan biaya produksi 10 juta yuan, film tersebut belum memperoleh pemasukan yang cukup untuk menutup ongkos produksinya. Angka itu belum memperhitungkan rincian lain yang tidak disebutkan dalam laporan.

CEO Bona Film Group, Jiang Defu, mengakui penerimaan pasar terhadap film itu masih dingin. Ia tetap menilai pencapaian memperoleh izin tayang sebagai tonggak tersendiri bagi timnya. Kepada AFP, Jiang mengatakan, “Kami adalah tim pertama yang berhasil mendapatkan izin edar bioskop resmi untuk kategori film seperti ini.”

Dengan demikian, dua capaian Sanxingdui: Future Past bergerak ke arah berbeda. Film tersebut berhasil melewati jalur perizinan untuk tayang di bioskop, tetapi pendapatan awalnya belum mendekati biaya produksi. Prestasi pada sisi produksi dan distribusi belum cukup menjadi ukuran keberhasilan komersial.

Niu Lai menunjukkan kontras di box office

Perbandingan mencolok datang dari Niu Lai, film animasi lokal karya sutradara Xin Yumeng. Produksinya disebut menelan biaya hanya 200 hingga 500 dollar AS, atau sekitar Rp 3 juta sampai Rp 7,5 juta, dengan tampilan 3D yang sederhana. Meski demikian, film itu kemudian ramai dibicarakan di media sosial.

Dalam 10 hari pertama, Niu Lai baru meraih sekitar Rp 17 juta. Setelah viral, pendapatannya melonjak hingga 64,29 juta yuan, hampir Rp 150 miliar. Jarak angka tersebut dengan perolehan Sanxingdui: Future Past sangat lebar, baik dari sisi skala modal maupun hasil box office yang dilaporkan.

Kontras ini tidak serta-merta membuktikan bahwa teknologi AI menjadi penyebab rendahnya penjualan Sanxingdui. Namun, dua hasil itu memperlihatkan bahwa kecanggihan proses produksi saja belum menjamin film menarik minat penonton. Dalam kasus Niu Lai, perhatian di media sosial muncul bersamaan dengan lonjakan pendapatan, sementara Sanxingdui belum mencatat hasil serupa dalam data yang tersedia.

Bagi Bona Film Group, tantangannya kini bukan hanya mempertahankan status sebagai pembuat film AI pertama yang memperoleh izin edar bioskop resmi di China. Angka pendapatan setelah masa pemutaran berikutnya akan memperlihatkan apakah Sanxingdui: Future Past mampu memperkecil jarak dengan biaya produksinya.