Selama dua dekade, G-Dragon membangun reputasi sebagai salah satu ikon fashion paling berpengaruh di K-pop. Leader BIGBANG ini bukan hanya berani bereksperimen dengan pakaian, tetapi juga berkali-kali membuat gayanya menjadi bahan perbincangan jauh di luar industri musik Korea.
Pengaruh tersebut tampak kembali dalam sejumlah penampilan terbarunya, termasuk mantel faux fur Chanel yang dramatis di Coachella dan setelan Tom Ford berwarna merah muda lembut di gala pembukaan Los Angeles County Museum of Art. Di tengah perayaan 20 tahun BIGBANG, warisan musik grup itu pun berjalan beriringan dengan pengaruh G-Dragon di dunia mode.
Tujuh alasan G-Dragon menjadi ikon fashion K-pop
1. Gaya berani yang mendahului gelombang K-pop
Jauh sebelum K-pop mendunia seperti sekarang, G-Dragon sudah menjadikan busana sebagai bagian penting dari identitasnya. Ia dikenal berani memadukan warna, potongan, dan aksesori yang tidak lazim. Julukan “sold-out king” ikut melekat pada namanya, sementara reputasinya sebagai trendsetter terus dibicarakan selama bertahun-tahun.
Baginya, pakaian bukan sekadar pelengkap penampilan panggung. Cara ia berpakaian menjadi salah satu bentuk ekspresi diri yang mudah dikenali, sekaligus memberi penggemar bahan untuk ditafsirkan dan diadaptasi.
2. Pengakuan dari industri fashion global
Pada 2015, Business of Fashion memasukkan G-Dragon ke dalam BoF 500, indeks tahunan yang menghimpun tokoh-tokoh pembentuk industri fashion dunia. Saat itu, ia menjadi satu-satunya idol K-pop dalam daftar tersebut sekaligus bintang pop Korea pertama yang berhasil masuk.
Pengakuan itu menempatkannya dalam percakapan yang lebih luas daripada musik dan budaya pop Korea. G-Dragon tak hanya hadir sebagai selebritas yang mengenakan pakaian desainer, tetapi juga sebagai figur yang diperhitungkan dalam lanskap fashion global.
3. Perpaduan runway dan streetwear avant-garde
Sejak rutin terlihat di fashion week pada awal 2010-an, G-Dragon punya cara tersendiri dalam merangkai busana. Ia memadukan koleksi runway dari Chanel, Givenchy, dan Saint Laurent dengan streetwear avant-garde dari label seperti Ambush, Hood By Air, dan KTZ.
Perpaduan itu kerap dilengkapi tumpukan perhiasan, topi berukuran besar, atau syal berlapis. Alih-alih tampil seragam dengan busana yang disiapkan sebuah brand, ia membawa karakter pribadinya ke dalam padu padan tersebut.
4. Kehadirannya menjadi bagian dari pertunjukan
G-Dragon tidak hanya menarik perhatian saat berada di atas panggung. Kedatangannya di peragaan busana juga menjadi momen yang dinantikan editor fashion dan fotografer street style. Rasa penasaran terhadap pakaian yang akan ia kenakan bahkan kerap menyaingi antusiasme terhadap koleksi di runway.
Undangan dari rumah mode seperti Chanel, Saint Laurent, dan Lanvin menjadi bagian dari agendanya. Ia juga menunjukkan bahwa aturan berpakaian formal tidak harus menghapus kepribadian. Di peragaan haute couture Chanel Autumn/Winter 2015 bertema kasino, misalnya, ia mengenakan tuksedo hitam dengan rambut pompadour merah menyala.
Hubungan G-Dragon dengan Chanel dan pengaruhnya
5. Kedekatan khusus dengan Chanel
Hubungan G-Dragon dengan Chanel berkembang melampaui kehadiran sebagai tamu di peragaan busana. Kedekatannya dengan mendiang direktur kreatif Karl Lagerfeld membuat posisinya berbeda dari selebritas lain. Pada 2016, Lagerfeld memotretnya untuk tiga sampul Vogue Korea. Pada tahun yang sama, G-Dragon ditunjuk sebagai duta global Chanel pertama dari Asia.
Kolaborasi itu menjadi penanda penting bagi karier fashion-nya. Di saat akses ke industri luxury global masih terbuka bagi segelintir artis laki-laki Asia, G-Dragon memiliki tempat yang menonjol—hingga dijuluki “Chanel Boy”.
6. Mengubah cara orang melihat Chanel
Chanel tidak memiliki lini menswear resmi. Namun, G-Dragon tetap menemukan cara untuk membawa kode khas rumah mode itu ke dalam gaya personalnya: jaket tweed dipasangkan dengan distressed denim, kalung mutiara dikenakan di atas kaus grafis, sementara bros, cincin, dan rantai ditumpuk bersama.
Alih-alih mengikuti cara berpakaian yang dianggap baku, ia mengolah elemen-elemen tersebut menjadi penampilan yang terasa miliknya. Interpretasi itu turut memperluas pandangan mengenai siapa yang bisa mengenakan Chanel dan bagaimana busana rumah mode tersebut dapat dipakai.
7. Pengaruhnya tetap terasa hingga kini
Relevansi G-Dragon tidak berhenti pada pengakuan yang ia peroleh lebih dari satu dekade lalu. Penampilan di Coachella dan gala pembukaan museum di Los Angeles menunjukkan bahwa ia masih mampu menghadirkan tampilan yang ramai dibicarakan. Pengaruh artis K-pop sebagai referensi berpakaian juga terlihat dalam tren yang lebih luas.
Pinterest mencatat pencarian global untuk “K-pop style” naik 19 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Senior Director of Content Partnerships APAC Pinterest, Ayumi Nakajima, mengatakan penggemar tidak hanya mengikuti artis, tetapi juga mengeksplorasi tampilan mereka dan mengolah inspirasi itu menjadi gaya pribadi.
BIGBANG dijadwalkan tampil di National Stadium Singapura pada Oktober 2026 sebagai bagian dari tur reuni, lalu singgah di Jakarta International Stadium pada Januari 2027. Momen tersebut akan membawa kembali perhatian pada perjalanan grup sekaligus membuka ruang untuk melihat bagaimana pengaruh fashion G-Dragon terus berkembang bersama generasi penggemarnya.
