RSUD dr Murjani Sampit melayani 90.245 pasien selama Januari hingga September 2026. Sebagian besar datang untuk berobat jalan, sementara hipertensi primer menjadi diagnosis yang paling banyak tercatat baik pada layanan rawat jalan maupun rawat inap.
Data rumah sakit menunjukkan 76.413 pasien menjalani rawat jalan dan 13.832 lainnya dirawat inap. Angka tersebut disampaikan Wakil Direktur Anggaran dan Keuangan RSUD dr Murjani, Setia Rahmadi, pada Jumat, 30 Oktober 2026, seperti dilaporkan TintaBorneo.com.
Rincian penyakit yang ditangani memperlihatkan beban layanan yang beragam. Sejumlah kasus berkaitan dengan penyakit kronis, sementara catatan rawat inap juga mencakup gangguan akut dan kondisi yang memerlukan penanganan rumah sakit.
Hipertensi berada di urutan teratas rawat jalan
Dalam daftar kunjungan rawat jalan, hipertensi primer menempati posisi pertama dengan 7.846 kasus. Berikutnya, dispepsia atau gangguan pencernaan tercatat sebanyak 3.062 kasus. Nekrosis pulpa gigi berada di urutan selanjutnya dengan 2.629 kasus.
Diabetes melitus yang disertai komplikasi pada peredaran darah perifer tercatat sebanyak 2.302 kasus. Dua jenis keluhan lain yang masuk daftar terbanyak ialah angina pektoris, yakni nyeri dada akibat gangguan aliran darah ke jantung, dengan 2.206 kasus, serta nyeri punggung bawah sebanyak 2.196 kasus.
Daftar tersebut juga memuat diabetes dengan komplikasi saraf, yang mencapai 1.939 kasus. Gagal jantung kongestif tercatat sebanyak 1.514 kasus. Angka-angka itu merupakan catatan menurut jenis penyakit dalam pelayanan rawat jalan, bukan jumlah total seluruh kunjungan.
Dominasi hipertensi pada data rawat jalan berlanjut pada layanan inap. Namun, jumlahnya berbeda jauh: 878 pasien tercatat dirawat dengan hipertensi primer, lebih rendah dibanding 7.846 kasus pada catatan rawat jalan.
Gangguan pencernaan dan elektrolit turut ditangani
Setelah hipertensi, kasus rawat inap terbanyak adalah gastroenteritis dan kolitis, dengan 588 pasien. Dispepsia menyusul dengan 462 pasien. Rumah sakit juga merawat 442 pasien yang mengalami hiponatremia, yaitu gangguan keseimbangan natrium.
Diabetes melitus dengan komplikasi peredaran darah perifer tercatat pada 419 pasien rawat inap. Sebanyak 413 pasien lainnya menjalani perawatan karena gangguan metabolisme protein plasma. Sementara itu, stroke atau infark serebral tercatat sebanyak 384 pasien.
Dalam kelompok sepuluh besar rawat inap, diabetes tanpa komplikasi dialami 375 pasien. Hipokalemia atau kekurangan kadar kalium dalam darah tercatat pada 364 pasien. Rumah sakit juga menangani sepsis bakteri pada 348 bayi baru lahir.
Rincian tersebut menggambarkan bahwa layanan inap tidak hanya menangani penyakit yang juga banyak ditemukan pada rawat jalan. Ada pula kondisi lain, seperti gangguan natrium dan kalium, stroke, serta sepsis pada bayi baru lahir.
Jumlah pasien menjadi tantangan pelayanan
Setia Rahmadi menyampaikan bahwa besarnya jumlah kunjungan berjalan beriringan dengan kebutuhan penanganan penyakit kronis dan kondisi kegawatdaruratan. Dengan total lebih dari 90 ribu pasien dalam sembilan bulan, rumah sakit melayani dua kelompok utama: pasien yang menjalani pemeriksaan tanpa menginap dan mereka yang membutuhkan perawatan di ruang rawat inap.
Komposisi itu juga memperlihatkan perbedaan skala layanan. Jumlah pasien rawat jalan lebih dari lima kali jumlah pasien rawat inap, berdasarkan angka yang disampaikan rumah sakit. Sementara itu, daftar penyakit terbanyak menunjukkan hipertensi menempati peringkat pertama pada kedua jenis pelayanan, meski jumlah kasusnya tidak sama.
Data yang dipublikasikan mencakup periode Januari sampai September 2026. Belum ada rincian dalam laporan tersebut mengenai perbandingan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya atau jumlah pasien pada tiga bulan terakhir tahun ini. Catatan rumah sakit hingga September itu menjadi gambaran terbaru mengenai volume layanan dan jenis kasus yang ditangani RSUD dr Murjani Sampit.
