Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyebut penyelewengan BBM bersubsidi sebagai salah satu pemicu antrean panjang di sejumlah SPBU. Ia menduga solar subsidi ditampung menggunakan kendaraan berkapasitas besar, lalu dijual kembali dengan harga industri.
Dalam konferensi pers di Kementerian ESDM yang dikutip CNBC Indonesia pada Sabtu (17/10), Bahlil mencontohkan dugaan praktik tersebut di Makassar. Ia mengatakan ada kendaraan yang mampu menampung hingga 700-1.000 liter BBM. Bahlil juga meminta Kapolri Suyudi Ario Seto menindak tegas pelaku penyalahgunaan BBM subsidi.
Dugaan penimbunan solar subsidi di SPBU
Bahlil menyoroti kendaraan berkapasitas besar yang diduga mengisi BBM subsidi dalam jumlah banyak. Ia menyebut mobil seperti Pajero dalam keterangannya, seraya menyinggung kendaraan dengan tangki atau daya tampung besar yang kemudian digunakan untuk mengambil solar bersubsidi.
Menurut Bahlil, BBM itu tidak seluruhnya digunakan sebagaimana mestinya, melainkan ditampung dan dijual kembali kepada pihak lain dengan harga industri. Praktik tersebut, jika terjadi, membuat subsidi yang ditanggung negara dinikmati melalui penjualan kembali, bukan dimanfaatkan sesuai peruntukannya.
“Masa minyak BBM solar subsidi ditampung kemudian dijual lagi dengan harga industri. Itu kan subsidinya ditanggung oleh negara,” kata Bahlil.
Ia mengatakan dugaan pengumpulan BBM dalam jumlah besar itu menjadi salah satu faktor yang perlu diperiksa di tengah munculnya antrean di sejumlah SPBU. Pernyataan tersebut bukan berarti antrean di semua lokasi disebabkan oleh praktik yang sama. Namun, Bahlil meminta penyelewengan ditindak agar distribusi BBM bersubsidi tidak disalahgunakan.
Permintaan kepada Kapolri menunjukkan bahwa pemerintah menghendaki penanganan melalui penegakan hukum. Bahlil menilai penjualan kembali solar subsidi dengan harga industri sebagai persoalan serius karena biaya subsidi berasal dari negara. Ia tidak merinci dalam keterangan itu jumlah pelaku atau besaran BBM yang diduga diselewengkan.
Stok nasional aman, Pertalite mengalami penurunan
Di tengah sorotan terhadap antrean, Bahlil memastikan stok BBM nasional masih berada dalam kondisi aman, yakni sekitar 16-18 hari. Jumlah itu turun dibandingkan bulan sebelumnya, ketika stok tercatat sekitar 18-20 hari.
Penurunan tersebut, menurut Bahlil, terutama terjadi pada Pertalite atau BBM RON 90. Ia menjelaskan bahwa perubahan stok berkaitan dengan pergeseran konsumen dari BBM nonsubsidi seperti RON 92 dan RON 95 ke Pertalite, yang memiliki perbedaan harga.
Bahlil membedakan kondisi Pertalite dari pasokan BBM nonsubsidi. Ia menyatakan RON 92, RON 95, dan RON 98 tidak menghadapi masalah, sementara pergeseran stok yang ia jelaskan terjadi pada RON 90. Karena itu, angka stok 16-18 hari tidak ia gambarkan sebagai persoalan yang mencakup seluruh jenis BBM.
Pemerintah memperkirakan stok dapat kembali mencapai sekitar 20 hari dalam waktu kurang lebih sepekan. Bahlil menegaskan bahwa posisi 16-18 hari masih berada dalam batas aman. Perkiraan tersebut disampaikan bersamaan dengan upaya memperlancar distribusi BBM.
Pengiriman BBM dan pengawasan distribusi
Untuk mendukung kelancaran pasokan, Bahlil meminta Pertamina memperbanyak kapal pengangkut BBM. Perhatian diarahkan, antara lain, pada pengiriman dari Jawa Timur ke Bali dan sejumlah wilayah lainnya. Jalur distribusi menjadi bagian penting dalam memastikan stok tersedia di berbagai daerah.
Keterangan Bahlil menempatkan dua hal sebagai perhatian pemerintah: ketersediaan pasokan dan penggunaan BBM subsidi sesuai peruntukan. Stok nasional yang disebut masih aman tidak menghapus kebutuhan untuk menjaga distribusi, sementara dugaan penyelewengan memerlukan penanganan agar tidak membebani subsidi negara.
Ke depan, pengawasan atas penjualan BBM bersubsidi dan kelancaran pengiriman akan sama-sama menentukan apakah pasokan bisa menjangkau konsumen tanpa hambatan. Pemerintah menyebut stok diperkirakan pulih ke sekitar 20 hari dalam sepekan, sembari meminta aparat menindak dugaan penyalahgunaan yang menjadi sorotan.
