Kantor pusat Saudi Aramco di Dhahran, Arab Saudi, kembali menjadi sorotan setelah perusahaan meminta pegawainya meninggalkan kompleks tersebut pada Kamis, 22 Oktober 2026, dan bekerja dari jarak jauh. Instruksi itu muncul beberapa hari setelah kantor pusat Aramco dilaporkan diserang di tengah meningkatnya konflik Arab Saudi dengan kelompok Houthi di Yaman.
Enam orang yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa instruksi evakuasi telah diberikan. Namun, alasan spesifik di balik keputusan itu belum diketahui. Aramco belum memberikan tanggapan saat laporan tersebut diterbitkan.
Peristiwa ini memunculkan pertanyaan mengenai kemungkinan dampaknya bagi Indonesia. Aramco memiliki operasi di berbagai negara, termasuk Indonesia, tetapi keberadaan perusahaan itu di dalam negeri tidak serta-merta berarti aktivitas energi Indonesia langsung terganggu.
Kompleks Dhahran punya fungsi strategis
Serangan sebelumnya terjadi pada Selasa malam, 13 Oktober 2026. Kebakaran dilaporkan menjalar ke sejumlah lantai gedung. Sumber Reuters menyebut kompleks tersebut mengalami kerusakan besar, sementara Kementerian Energi Arab Saudi menyatakan insiden itu menimbulkan kebakaran terbatas.
Nilai strategis kompleks Dhahran tidak hanya terletak pada fungsinya sebagai kantor. Di dalamnya terdapat pusat kendali yang membantu Aramco mengawasi fasilitas pengeboran di darat dan lepas pantai, kilang, terminal ekspor, serta jaringan pipa yang membentang ribuan kilometer.
Karena itu, gangguan pada kompleks tersebut menjadi perhatian industri energi. Namun, informasi yang tersedia belum menjelaskan sejauh mana serangan memengaruhi kegiatan operasional Aramco. Instruksi bekerja dari jarak jauh juga belum disertai keterangan resmi mengenai alasan maupun durasi pelaksanaannya.
Jaringan global Aramco dan kaitannya dengan Indonesia
Skala usaha Aramco jauh melampaui Arab Saudi. Berdasarkan laporan tahunan 2025, perusahaan memiliki jaringan operasi di lebih dari 50 negara melalui anak perusahaan, perusahaan afiliasi, dan usaha patungan. Daftar lokasi operasi yang dihimpun mencakup 56 negara dan wilayah di Asia, Eropa, Amerika, Afrika, hingga Oseania. Indonesia termasuk di dalamnya.
Keterkaitan Aramco dengan Indonesia pernah terlihat dalam rencana kerja sama dengan PT Pertamina (Persero) untuk mengembangkan Kilang Cilacap, Jawa Tengah. Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) yang dirintis sejak 2016 itu dirancang untuk meningkatkan kapasitas pengolahan kilang dari sekitar 348.000 menjadi 400.000 barel per hari.
Namun, setelah negosiasi selama beberapa tahun, kerja sama Aramco dan Pertamina untuk proyek tersebut berakhir pada 2020. Pertamina kemudian meneruskan rencana pengembangan kilang tanpa Aramco. Dengan demikian, rencana Cilacap itu bukan kerja sama yang masih berjalan, sehingga tak tepat menyimpulkan bahwa evakuasi kantor Dhahran otomatis menghentikan proyek tersebut.
Keberadaan Aramco dalam jaringan global tetap membuat perkembangan perusahaan relevan untuk dicermati. Meski demikian, bahan yang tersedia tidak menunjukkan adanya gangguan langsung terhadap operasi Aramco di Indonesia ataupun pasokan energi Indonesia akibat serangan tersebut.
Produksi dan kapasitas kilang Aramco
Besarnya peran Aramco tercermin dari kapasitas pengilangan globalnya. Pada 2025, kapasitas pengilangan bruto perusahaan mencapai 7,8 juta barel per hari, naik dari 7,7 juta barel per hari pada 2024. Kapasitas neto—yang memperhitungkan porsi kepemilikan Aramco—meningkat dari 4,1 juta menjadi 4,2 juta barel per hari.
Dalam peta jaringan pengilangan 2025, Aramco mencantumkan 17 fasilitas dan perusahaan di tujuh negara: Arab Saudi, Amerika Serikat, China, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, dan Polandia. Arab Saudi memiliki jumlah kilang terbanyak dalam daftar tersebut, yakni sembilan kilang dengan kapasitas pengolahan gabungan 3,35 juta barel per hari.
Sembilan kilang itu menyumbang sekitar 43 persen dari kapasitas pengilangan bruto Aramco secara global. Ras Tanura tercatat sebagai yang terbesar, dengan kapasitas 550.000 barel per hari, disusul SATORP sebesar 465.000 barel per hari dan YASREF 450.000 barel per hari.
Produksi perusahaan juga meningkat sepanjang 2025. Rata-rata produksi hidrokarbon cair mencapai 10,68 juta barel per hari, dibandingkan 10,29 juta barel per hari pada tahun sebelumnya. Adapun produksi total hidrokarbon, termasuk gas alam, mencapai 12,89 juta barel ekuivalen minyak per hari.
Data tersebut memberi gambaran mengapa perkembangan di Dhahran mendapat perhatian, tetapi belum cukup untuk memastikan besarnya dampak terhadap pasar atau Indonesia. Perhatian berikutnya tertuju pada penjelasan resmi Aramco dan informasi tentang kondisi fasilitasnya. Sampai ada keterangan lebih lengkap, hubungan operasi Aramco dengan Indonesia perlu dilihat secara proporsional: ada jejak bisnis dan rencana kerja sama pada masa lalu, tetapi tidak ada bukti dalam laporan ini bahwa kegiatan di Indonesia terdampak langsung.
