Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bertemu Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth di Pangkalan Udara Ovda, Israel selatan, pada Senin (19/10). Kepala Staf Angkatan Darat Israel Eyal Zamir dilaporkan tidak diundang dalam pertemuan tertutup itu, yang berlangsung menjelang pemilihan umum Israel pada 27 Oktober.
Lembaga penyiaran publik Israel, KAN, menyebut Zamir bukan hanya tidak hadir, tetapi juga tidak dipanggil. Pertemuan yang sebelumnya tidak diumumkan kepada publik itu turut dihadiri Menteri Pertahanan Israel Israel Katz dan sejumlah pejabat lain. KAN tidak menjelaskan alasan kepala staf militer tersebut tidak dilibatkan.
Di tengah kunjungan mendadak Hegseth, perhatian tertuju pada pembicaraan kemungkinan dimulainya kembali operasi militer skala besar terhadap Iran. Namun, laporan yang tersedia tidak merinci isi pembicaraan maupun keputusan yang diambil dalam pertemuan Netanyahu dan Hegseth.
Pertemuan Netanyahu-Hegseth berlangsung tertutup
KAN melaporkan Zamir absen dalam pertemuan yang digelar di pangkalan udara di wilayah selatan Israel. Dalam pemberitaan pada Selasa (20/10), lembaga itu menyampaikan bahwa sang kepala staf tidak mendapat undangan.
“Kepala Staf Zamir tidak hadir dalam pertemuan luar biasa yang diadakan tadi malam di pangkalan udara di selatan, dan dia juga tidak dipanggil,” demikian laporan KAN.
Media Israel juga melaporkan Netanyahu bertemu Hegseth sehari sebelumnya di pangkalan Angkatan Udara Israel. Channel 12 menyebut kunjungan Hegseth berlangsung delapan hari sebelum pemungutan suara yang dijadwalkan pada 27 Oktober.
Meski sejumlah pejabat senior hadir, tidak ada keterangan resmi mengenai alasan rapat berlangsung tanpa Zamir. Ketiadaan informasi itu membuat susunan peserta menjadi sorotan, terlebih pembicaraan berlangsung ketika isu keamanan dan kemungkinan operasi terhadap Iran tengah mengemuka.
Isu Iran dan kesiagaan militer Israel
Pertemuan tersebut berlangsung saat Amerika Serikat dan Israel membahas kemungkinan dimulainya kembali operasi militer skala besar terhadap Iran. Laporan media tidak menyebut apakah agenda itu dibicarakan secara khusus dalam rapat di Ovda, ataupun apakah kedua pihak menyepakati langkah lanjutan.
Di tengah perhatian terhadap pertemuan tersebut, Zamir menyatakan pada Selasa (20/10) bahwa militer Israel tetap berada dalam kondisi siaga tinggi dan siap menghadapi situasi menjelang pemilihan umum. Pernyataan itu menegaskan kesiapan militer, tetapi tidak secara langsung menjelaskan ketidakhadirannya dalam pertemuan dengan Hegseth.
Belum ada keterangan yang menghubungkan absennya Zamir dengan rencana operasi tertentu. Karena itu, pembicaraan tentang Iran masih menjadi konteks yang dilaporkan media, bukan konfirmasi bahwa keputusan serangan baru telah diambil.
Rapat berlangsung menjelang pemilu Israel
Pemilihan umum 27 Oktober menjadi persaingan penting bagi Netanyahu, yang berupaya mempertahankan kekuasaan setelah memimpin pemerintahan sejak Desember 2022. Partai Likud yang dipimpinnya bersaing dengan blok oposisi, sementara jajak pendapat belum menunjukkan kubu mana yang dapat dipastikan meraih mayoritas kursi parlemen.
Sekitar 7,3 juta warga Israel berusia 18 tahun ke atas tercatat berhak memberikan suara. Pemilu menggunakan sistem proporsional dengan 120 kursi di Knesset. Untuk memperoleh mayoritas, sebuah partai atau koalisi harus menguasai setidaknya 61 kursi.
Belum pernah ada satu partai yang meraih mayoritas mutlak dalam pemilu Israel. Karena itu, perolehan suara terbanyak tidak otomatis memastikan partai tersebut memegang pemerintahan. Seusai pemilu, partai-partai perlu membentuk koalisi yang mampu mengamankan sedikitnya 61 kursi.
Persaingan berlangsung di tengah perpecahan politik mengenai kepemimpinan dan arah pemerintahan. Netanyahu juga menghadapi persidangan atas tuduhan korupsi yang ia bantah. Di tingkat internasional, Mahkamah Pidana Internasional mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadapnya pada November 2024 atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan terkait perang di Gaza.
Dengan pemungutan suara yang kian dekat dan isu keamanan tetap menonjol, pertemuan di Ovda menambah perhatian terhadap hubungan antara agenda militer dan dinamika politik Israel. Namun, tanpa penjelasan mengenai alasan Zamir tidak diundang serta tanpa rincian resmi isi pembicaraan, dampak rapat itu terhadap kebijakan berikutnya masih belum dapat dipastikan.
