Aktor sekaligus aktivis lingkungan Leonardo DiCaprio menyoroti kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dan Sumatera yang mengancam habitat satwa liar, terutama orangutan. Dalam unggahan video di Instagram, ia menyebut lebih dari 2 juta acre atau sekitar 800 ribu hektare hutan di kedua pulau telah terbakar.
DiCaprio membagikan rekaman dampak kebakaran sekaligus kisah seekor orangutan Kalimantan yang ditemukan saat habitatnya dilalap api. Satwa itu berhasil diselamatkan dan kini mendapat perawatan dokter hewan, menurut keterangan yang disampaikan dalam unggahannya.
Karhutla mengancam habitat orangutan Kalimantan
Dalam keterangan video, DiCaprio menggambarkan orangutan Kalimantan yang berusaha melarikan diri ketika hutan tempatnya hidup terbakar. Ia menyebut orangutan tersebut dievakuasi oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) di Kalimantan Tengah dengan dukungan BOS Foundation.
“Orangutan Kalimantan terlihat melarikan diri dari hutan yang terbakar seiring hilangnya habitat mereka,” tulis DiCaprio.
Satwa itu kemudian dibawa untuk menjalani perawatan dokter hewan. Kisah penyelamatan tersebut memperlihatkan dampak langsung karhutla terhadap satwa yang kehilangan tempat berlindung dan ruang untuk mencari makan.
DiCaprio juga menyebut lebih dari separuh orangutan Kalimantan di dunia berada dalam bahaya. Kebakaran, menurut dia, bukan hanya mengubah bentang hutan, tetapi juga menempatkan satwa yang hidup di dalamnya dalam ancaman ketika habitat mereka menghilang.
Ancaman serupa turut dihadapi owa berjanggut putih Kalimantan atau Bornean white-bearded gibbon. DiCaprio menyoroti bahwa satwa ini menghabiskan hampir seluruh hidupnya di pepohonan. Saat api menjalar dan menghanguskan hutan, pilihan mereka untuk menyelamatkan diri menjadi terbatas.
Perubahan iklim dan pembukaan lahan memperburuk kebakaran
DiCaprio menjelaskan, perubahan iklim membuat hutan Kalimantan semakin panas dan kering sehingga lebih rentan terbakar. Ia juga menyinggung kebakaran yang kerap dimulai oleh manusia untuk membuka hutan bagi kegiatan pertanian.
Risiko menjadi lebih besar ketika api mencapai lahan gambut. Gambut menyimpan karbon dalam jumlah besar; ketika terbakar, karbon yang tersimpan dilepaskan ke atmosfer. Kondisi tersebut, menurut DiCaprio, turut memperburuk krisis iklim sekaligus mengancam keanekaragaman hayati.
“Perubahan iklim membuat hutan Kalimantan menjadi lebih kering, lebih panas, dan lebih rentan terhadap kebakaran, yang sering kali dimulai oleh manusia untuk membuka hutan bagi pertanian,” tulisnya.
Ia menambahkan, lahan gambut kaya karbon yang terbakar dapat melepaskan karbon tersimpan dalam jumlah sangat besar. Karena itu, kebakaran tidak berhenti sebagai persoalan hilangnya tutupan hutan. Dampaknya juga berkaitan dengan iklim dan kelangsungan hidup berbagai spesies.
Asap karhutla juga berdampak pada manusia
Dalam unggahannya, DiCaprio menyebut lebih dari 5 juta orang telah terpapar asap kebakaran. Jumlah itu menunjukkan bahwa dampak karhutla menjangkau manusia, tidak hanya satwa liar dan ekosistem hutan.
Ia menyebut penanganan kebakaran melibatkan berbagai pihak, mulai dari petugas pemadam kebakaran dan penyelamat satwa liar hingga organisasi nonpemerintah serta pemerintah Indonesia. Upaya penyelamatan orangutan di Kalimantan Tengah menjadi salah satu gambaran kerja yang dilakukan di tengah kondisi tersebut.
Angka luas hutan yang terbakar dan paparan asap yang disampaikan DiCaprio menggambarkan besarnya masalah yang dihadapi. Namun, unggahannya juga menyoroti konsekuensi yang lebih dekat: satwa harus meninggalkan habitat, sementara sebagian lainnya membutuhkan pertolongan setelah terdampak api.
Nasib orangutan dan owa berjanggut putih menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla berhubungan erat dengan perlindungan habitat. Ketika kebakaran terus mengancam hutan, penyelamatan satwa dan upaya mencegah api meluas sama-sama menjadi bagian penting dari perlindungan kehidupan di Kalimantan dan Sumatera.
