Alphabet kehilangan sekitar 500 miliar dollar AS atau setara Rp 9.000 triliun dalam nilai pasar saham pada Kamis waktu setempat. Investor merespons kabar bahwa ringkasan berbasis kecerdasan buatan (AI) di Google Search mulai memengaruhi pendapatan iklan, sekaligus mencermati besarnya biaya yang dikeluarkan untuk pengembangan teknologi tersebut.
Nilai pasar Alphabet turun dari 3,97 triliun dollar AS menjadi 3,46 triliun dollar AS pada penutupan perdagangan. Saham perusahaan induk Google itu sempat menyentuh titik terendah dalam enam bulan. Kompas.id melaporkan penurunan nilai pasar sekitar Rp 8.742 triliun, sementara detikInet menyebut angka sekitar Rp 9.000 triliun. Perbedaan tersebut merupakan perkiraan konversi nilai dalam dollar AS ke rupiah.
Penurunan ini terjadi meski pendapatan Alphabet tumbuh. Pasar tampaknya lebih khawatir pada kemampuan perusahaan mempertahankan bisnis pencarian yang selama ini menjadi sumber pendapatan besar, sambil terus membiayai investasi AI.
Ringkasan AI mengubah sumber iklan Google
Google Search kini menampilkan rangkuman AI secara otomatis untuk pertanyaan pengguna. Perubahan tampilan itu berpengaruh terhadap jumlah iklan yang muncul selama kuartal tersebut. Iklan yang tampil berdekatan dengan hasil pencarian selama ini menjadi penyumbang terbesar bagi bisnis Alphabet.
Persoalannya bukan sekadar perubahan pada halaman pencarian. Bila pengguna memperoleh jawaban melalui ringkasan AI, pola mereka saat melihat atau mengeklik tautan dan iklan berpotensi berubah. Bahan laporan yang dikutip detikInet menyebut dampak terhadap iklan telah terlihat, tetapi tidak merinci jumlah iklan yang berkurang ataupun besaran pendapatan yang terdampak.
Tracy Woo, analis Forrester, menilai kinerja bisnis pencarian Alphabet yang mengecewakan memperlihatkan sulitnya membiayai AI dalam skala besar sambil menjaga kekuatan bisnis lama. Tantangan itu membuat pasar menimbang ulang apakah investasi yang terus meningkat akan menghasilkan sumber pendapatan baru, atau justru menekan mesin bisnis yang sudah mapan.
Pendapatan tumbuh, tetapi kas perusahaan menyusut
Dalam kuartal yang dilaporkan, pendapatan Alphabet naik 25 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya, menjadi 127,6 miliar dollar AS. Google Cloud menjadi salah satu penopang, dengan pendapatan melonjak 103 persen hingga hampir 31 miliar dollar AS.
Namun, laba perusahaan justru turun 25 persen. Alphabet juga mencatat arus kas bebas negatif lebih dari 9 miliar dollar AS. Angka tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan kerugian kas yang dilaporkan tiga bulan sebelumnya. Arus kas bebas menggambarkan sisa dana setelah perusahaan membayar biaya operasional dan investasi. Nilai negatif berarti pengeluaran melampaui uang yang tersisa dari kegiatan tersebut.
Investasi besar untuk AI menjadi salah satu pendorong pengeluaran itu. Bagi investor, pertumbuhan pendapatan belum cukup untuk meredakan kekhawatiran ketika laba melemah dan kas terkuras. Mereka juga mengamati apakah belanja infrastruktur AI kelak menghasilkan pendapatan yang sepadan.
Amazon dan Microsoft ikut diuji investor
Perhatian pasar pekan itu tidak hanya tertuju pada Alphabet. Amazon melaporkan kenaikan penjualan kuartalan 11 persen menjadi 201 miliar dollar AS, tetapi arus kasnya tercatat negatif 42 miliar dollar AS. Saham perusahaan turun 6 persen setelah laporan tersebut.
CEO Amazon Andy Jassy mengaitkan pengeluaran itu, sebagian, dengan peluang bisnis yang menurutnya dapat bernilai 1 triliun dollar AS bagi perusahaan pada masa depan. Ia tidak menjelaskan dua bisnis yang dimaksud secara terperinci. Namun, Jassy beberapa kali menyinggung pembuatan chip sendiri dan Bedrock, platform pengembangan AI yang menyediakan akses berbayar ke berbagai model serta perangkat AI.
Microsoft juga mengalokasikan sekitar 5 miliar dollar AS untuk investasi AI. Pendapatannya tumbuh 19 persen menjadi 92,3 miliar dollar AS, sementara bisnis cloud naik 30 persen hingga 63 miliar dollar AS. Sahamnya turun kurang dari 1 persen. CEO Satya Nadella mengatakan penggunaan Copilot membuat jumlah tugas yang diotomatisasi hampir dua kali lipat sejak Juli, dengan pengguna harian tumbuh 500 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Respons pasar terhadap tiga perusahaan itu memperlihatkan bahwa pertumbuhan dan penggunaan AI belum otomatis menjawab pertanyaan soal hasil finansialnya. Investor kini menunggu bukti bahwa belanja besar dapat memperkuat pendapatan tanpa menggerus bisnis inti. Bagi Alphabet, perkembangan pendapatan iklan Google Search dan arus kas pada laporan berikutnya akan menjadi ukuran penting.
