Asap Karhutla Selimuti Sumut, Jarak Pandang Menurun

Nasional

Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti seluruh wilayah Sumatera Utara pada Rabu, 14 Oktober 2026. Sehari kemudian, sebaran asap masih terpantau di provinsi itu, sementara kualitas udara di sejumlah daerah berada pada kategori sedang hingga tidak sehat dan jarak pandang turun menjadi 1–3 kilometer.

Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I Medan Hendro Nugroho mengatakan citra satelit pada 14 Oktober pukul 08.00 WIB menunjukkan asap terdeteksi di seluruh wilayah Sumut. Pemantauan kualitas udara juga mencatat konsentrasi PM2.5—partikel sangat kecil di udara—berada pada kategori sedang hingga tidak sehat.

Pengamatan di Stasiun Meteorologi Aek Godang dan Stasiun Meteorologi Silangit pada pukul 10.00 WIB hari yang sama menunjukkan jarak pandang berkisar 1–4 kilometer. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kabut dan asap dapat mengurangi jarak pandang, khususnya bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan maupun berkendara.

Asal asap di Sumatera Utara diduga dari luar wilayah

Pada 15 Oktober, citra satelit kembali mendeteksi sebaran asap di Sumatera Utara. Analisis angin permukaan menunjukkan angin bertiup dari timur hingga tenggara menuju barat laut hingga utara. Berdasarkan arah pergerakan itu, BBMKG menilai asap berpotensi terbawa dari wilayah Sumatera bagian selatan dan Kalimantan.

Hendro menegaskan, asal asap belum dapat dipastikan hanya dari analisis arah angin. Penentuan sumber secara pasti, menurut dia, memerlukan analisis lebih lanjut dengan mempertimbangkan dinamika atmosfer serta data pendukung lainnya.

Adapun hasil pengamatan pada 15 Oktober pukul 09.00 WIB di Stasiun Meteorologi Kualanamu, Aek Godang, dan Silangit mencatat jarak pandang sekitar 1–3 kilometer. Kualitas udara di sejumlah wilayah Sumut pada hari itu juga berada dalam kategori sedang hingga tidak sehat.

Catatan titik panas menunjukkan perkembangan berbeda dalam rentang pemantauan tersebut. Pada 13 Oktober, citra satelit tidak mendeteksi titik panas di Sumut. Namun, berdasarkan pemantauan pada 14 Oktober, Hendro menyebut terdapat tiga titik panas kategori sedang, dengan sebaran yang disebut berada di Labuhanbatu dan Tapanuli Selatan. Titik panas merupakan indikasi yang dapat mengarah pada kejadian karhutla, bukan kepastian bahwa kebakaran telah terverifikasi di setiap titik.

Kualitas udara Medan masuk kategori tidak sehat

Dampak asap juga tercatat di Kota Medan. Dinas Lingkungan Hidup Kota Medan memantau kualitas udara melalui Stasiun Pemantauan Kualitas Udara (AQMS). Data per 14 Oktober pukul 07.00 WIB menunjukkan kawasan Jalan Pinang Baris, Medan Sunggal, memiliki Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) 136 dan masuk kategori tidak sehat.

Pada waktu yang sama, kawasan Jalan Jenderal Besar A.H. Nasution, Medan Johor, mencatat ISPU 83 atau kategori sedang. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Medan Melvi Marlabayana mengatakan pemantauan terus dilakukan seiring perubahan kondisi udara dan sebaran kabut asap lintas batas yang terbawa angin.

Perbedaan angka di dua lokasi itu menunjukkan kondisi udara yang terpantau tidak seragam. Karena itu, warga diimbau memperhatikan informasi kualitas udara dan mengurangi kegiatan di luar rumah ketika udara tampak pekat atau jarak pandang menurun. Jika harus beraktivitas di luar, masyarakat disarankan memakai masker yang sesuai.

Warga diminta waspada saat beraktivitas

Imbauan BBMKG juga mencakup keselamatan di jalan. Pengendara yang melintasi kawasan berkabut atau berasap diminta berhati-hati, mengurangi kecepatan, menjaga jarak aman, dan menyalakan lampu kendaraan sesuai kebutuhan.

Hendro meminta pemerintah daerah berkoordinasi dengan BPBD, TNI, dan Polri untuk mengantisipasi dampak sebaran asap serta meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat. Ia juga mengimbau warga mengikuti informasi resmi dari BBMKG Wilayah I Medan.

Perkembangan cuaca dan arah angin akan memengaruhi sebaran asap, sementara kepastian sumbernya masih memerlukan kajian lebih lanjut. Bagi warga Sumatera Utara, memantau pembaruan kualitas udara dan menyesuaikan aktivitas harian menjadi langkah penting selama jarak pandang dan kondisi udara belum membaik.