Won dan Rupiah Pimpin Penguatan Mata Uang Asia

Ekonomi

Won Korea Selatan dan rupiah menjadi mata uang Asia dengan penguatan terbesar terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa pagi, 20 Oktober 2026. Data Refinitiv pukul 09.18 WIB menunjukkan enam dari 10 mata uang yang dipantau bergerak menguat, seiring tekanan terhadap dolar yang mereda dan selera investor terhadap aset berisiko membaik.

Won menguat 0,38 persen ke posisi KRW1.327,03 per dolar AS. Rupiah menyusul dengan kenaikan 0,15 persen ke Rp18.003 per dolar AS, berbalik dari pelemahan pada perdagangan sebelumnya.

Penguatan rupiah berlanjut hingga penutupan. Berdasarkan data Refinitiv, mata uang Garuda ditutup naik 0,28 persen ke Rp17.980 per dolar AS, dari posisi sehari sebelumnya Rp18.030. Dengan demikian, rupiah kembali berada di bawah level psikologis Rp18.000 per dolar AS setelah dua hari bertahan di atasnya.

Enam mata uang Asia bergerak di zona hijau

Selain won dan rupiah, dolar Singapura menguat 0,05 persen. Dong Vietnam naik 0,04 persen, yuan China bertambah 0,03 persen, sementara yen Jepang menguat tipis 0,01 persen.

Namun, penguatan tidak merata di seluruh kawasan. Dolar Taiwan mencatat pelemahan terdalam, yakni 0,24 persen. Peso Filipina turun 0,11 persen, sedangkan baht Thailand dan ringgit Malaysia masing-masing melemah 0,03 persen dan 0,01 persen.

Pergerakan tersebut terjadi ketika indeks dolar AS atau DXY—yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama—melemah 0,06 persen ke 101,914 pada pagi hari. Sehari sebelumnya, DXY sempat naik sekitar 0,20 persen ke 101,98, sekaligus mengakhiri tekanan yang berlangsung selama dua hari.

Pelemahan dolar memberi ruang bagi mata uang lain untuk menguat. Pada perdagangan Selasa, DXY tercatat turun 0,22 persen ke 101,758 pada pukul 15.00 WIB. Pergerakan ini sejalan dengan penguatan rupiah hingga akhir sesi perdagangan.

Selera risiko investor membaik, dolar masih bertahan

Pasar valuta asing turut mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko. Kondisi itu mendorong permintaan pada sejumlah mata uang yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

“Pasar valuta mencerminkan membaiknya selera risiko, dengan mata uang berimbal hasil lebih tinggi kembali diburu,” ujar Chris Weston, kepala riset Pepperstone Group, seperti dikutip Reuters.

Meski melemah, dolar AS masih bertahan di atas level 101. Pasar global juga belum sepenuhnya tenang. Ketidakpastian politik di Eropa, khususnya Prancis, masih menjadi perhatian pelaku pasar.

Protes antipemerintah di Prancis kembali memanas. Otoritas memberlakukan jam malam di sejumlah kota setelah demonstrasi nasional menambah tekanan terhadap pemerintahan Presiden Emmanuel Macron.

Gejolak tersebut ikut tercermin di pasar obligasi Prancis. Selisih imbal hasil obligasi pemerintah Prancis tenor 10 tahun terhadap obligasi Jerman melebar 9,9 basis poin menjadi 147,3 basis poin pada Senin. Weston mengatakan risiko obligasi Prancis mulai diperhitungkan di pasar saham Eropa, meski ketahanan euro menunjukkan investor belum melihatnya sebagai masalah sistemik.

Perhatian pasar tertuju pada kebijakan BI

Di pasar obligasi AS, imbal hasil Treasury tenor 10 tahun relatif stabil di sekitar 5,131 persen. Sementara itu, yuan China menguat tipis setelah Bank Rakyat China mempertahankan suku bunga acuannya sesuai perkiraan pasar.

Penguatan rupiah juga berlangsung di tengah pemulihan pasar keuangan domestik. Pada Selasa, Indeks Harga Saham Gabungan melonjak 5,65 persen ke 5.278,89 setelah terkoreksi tajam dalam dua hari perdagangan sebelumnya. Namun, investor asing masih mencatatkan arus dana keluar bersih Rp2,21 triliun di seluruh pasar.

Perhatian pelaku pasar selanjutnya tertuju pada keputusan suku bunga Bank Indonesia setelah Rapat Dewan Gubernur selama dua hari. Perkembangan isu MSCI dan langkah menjaga stabilitas nilai tukar juga masih akan dicermati, sehingga penguatan rupiah dan mata uang Asia lainnya belum serta-merta menghapus ketidakpastian pasar.

Dengan latar tersebut, arah dolar dan keputusan bank sentral akan menjadi faktor penting bagi pergerakan rupiah berikutnya. Investor akan menilai apakah membaiknya sentimen risiko mampu bertahan di tengah dinamika global dan tantangan pasar keuangan dalam negeri.