Eating Jet Lag dan Risiko Jantung Pria: Temuan Studi

Kesehatan

Perbedaan waktu makan antara hari kerja dan akhir pekan berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular pada pria, menurut penelitian yang melibatkan lebih dari 104.000 orang dewasa. Setiap tambahan satu jam pergeseran jadwal makan dikaitkan dengan kenaikan risiko penyakit jantung sebesar 14 persen. Fenomena ini dikenal sebagai eating jet lag.

Temuan tersebut berasal dari penelitian tim Prancis dan Spanyol yang menggunakan data proyek kesehatan NutriNet-Santé. Hasilnya dipublikasikan dalam jurnal Communications Medicine dan diberitakan ScienceAlert pada 27 September 2026. Peneliti menemukan hubungan yang berbeda antara pria dan perempuan.

Apa yang dimaksud dengan eating jet lag?

Eating jet lag menggambarkan pergeseran jadwal makan antara hari kerja dan akhir pekan. Pada hari kerja, seseorang mungkin sarapan sebelum berangkat beraktivitas, makan siang saat istirahat, lalu makan malam setelah pulang. Ketika akhir pekan tiba, jam bangun yang lebih siang dapat membuat sarapan terlewat atau waktu makan bergeser.

Contohnya, seseorang yang biasa sarapan pukul 07.00 dan makan malam pukul 19.00 pada hari kerja, lalu baru sarapan pukul 10.00 dan makan malam pukul 21.00 saat akhir pekan. Perubahan itu mungkin tampak kecil karena hanya berlangsung satu atau dua hari, tetapi membuat tubuh menerima asupan pada waktu yang berbeda dari rutinitas biasanya.

Istilah tersebut serupa dengan social jet lag, yakni ketidaksesuaian jam biologis akibat perbedaan jadwal tidur dan aktivitas antara hari kerja dengan hari libur. Dalam penelitian ini, yang diperhatikan adalah perbedaan waktu makan, bukan semata-mata jenis makanan atau jumlah kalori yang dikonsumsi.

Bagaimana peneliti mengukur pergeseran jadwal makan?

Peneliti menghitung titik tengah antara waktu seseorang mengonsumsi kalori pertama dan terakhir dalam sehari. Perhitungan dilakukan untuk hari kerja dan akhir pekan, lalu selisih waktunya dibandingkan. Dengan cara itu, pergeseran jadwal makan dapat diukur, baik ketika waktu makan menjadi lebih lambat maupun lebih awal.

Pola peserta dikelompokkan ke dalam tiga kategori. Kategori advance menunjukkan waktu makan pada akhir pekan lebih awal daripada hari kerja, dengan pergeseran rata-rata sekitar dua jam. Kategori regular berarti jadwalnya relatif sama, sementara kategori delay menggambarkan waktu makan akhir pekan yang lebih lambat, dengan pergeseran rata-rata sekitar satu jam 40 menit.

Artinya, ketidakteraturan tidak hanya terjadi ketika seseorang makan lebih malam. Memajukan jadwal makan secara berarti pada akhir pekan juga termasuk pergeseran yang diperhitungkan dalam penelitian tersebut.

Risiko meningkat pada pria, bukan perempuan

Penelitian menggunakan data 104.806 peserta dewasa dalam proyek NutriNet-Santé. Pengumpulan data berlangsung pada 2009 hingga 2023. Sekitar 79 persen peserta adalah perempuan, dengan usia rata-rata 42,7 tahun.

Kebiasaan makan peserta dinilai melalui catatan konsumsi makanan selama 24 jam, kemudian dibandingkan dengan kejadian penyakit kardiovaskular. Pada pria, setiap tambahan satu jam perbedaan waktu makan antara hari kerja dan akhir pekan berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular sebesar 14 persen.

Hubungan yang lebih besar terlihat pada penyakit jantung koroner, termasuk serangan jantung. Risiko untuk kelompok penyakit tersebut tercatat meningkat 21 persen untuk setiap tambahan satu jam perbedaan waktu makan.

Peneliti tidak menemukan hubungan signifikan antara eating jet lag dan kejadian penyakit kardiovaskular pada perempuan. Hubungan pada pria tetap terlihat setelah sejumlah faktor lain diperhitungkan, antara lain usia, status sosial ekonomi, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, aktivitas fisik, pola makan, dan durasi tidur.

Angka-angka itu menunjukkan hubungan statistik, bukan bukti bahwa pergeseran jadwal makan secara langsung menyebabkan penyakit jantung. Perbedaan temuan antara pria dan perempuan juga belum menjelaskan mengapa kaitan tersebut muncul pada satu kelompok, tetapi tidak terdeteksi pada kelompok lainnya.

Peran jam biologis dalam waktu makan

Salah satu penjelasan yang diajukan berkaitan dengan ritme sirkadian, atau jam biologis tubuh. Sistem ini mengatur berbagai proses selama 24 jam, termasuk siklus tidur dan bangun, produksi hormon, metabolisme, serta pengaturan energi.

Cahaya bukan satu-satunya penanda waktu bagi tubuh. Asupan makanan juga dapat menjadi sinyal bagi jam biologis di berbagai organ. Ketika waktu makan teratur, proses metabolisme dapat menyesuaikan diri dengan pola aktivitas sehari-hari. Sebaliknya, perubahan jadwal yang berulang berpotensi mengganggu keselarasan ritme tersebut.

American Heart Association (AHA) sebelumnya turut menyoroti kaitan pola makan tidak teratur dengan sejumlah indikator kesehatan kardiometabolik, termasuk berat badan, resistensi insulin, dan tekanan darah. Dalam pernyataan ilmiah yang dimuat di jurnal Circulation pada 2017, AHA menyebut waktu dan frekuensi makan sebagai hal yang perlu diperhatikan dalam kesehatan metabolisme dan jantung.

Temuan tentang eating jet lag menambah perhatian terhadap kapan seseorang makan, di samping apa yang dikonsumsi. Namun, hasil penelitian ini belum menjadi dasar untuk menyimpulkan bahwa semua orang perlu mengikuti jadwal makan yang sama. Kajian berikutnya masih diperlukan untuk memahami hubungan tersebut lebih jauh, sementara menjaga keteraturan waktu makan dapat menjadi salah satu aspek yang dipertimbangkan dalam pola hidup sehat.