Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) masuk nominasi Asosiasi Anggota Terbaik Tahun 2026 kategori emas dalam penghargaan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC). Pencalonan itu menuai kritik karena FAM masih disorot terkait kasus dokumentasi kewarganegaraan tujuh pemain naturalisasi.
Jurnalis investigasi asal Prancis, Romain Molina, mempertanyakan keputusan AFC melalui akun X pribadinya. Ia menilai pencantuman FAM sebagai kandidat penghargaan tidak sejalan dengan kasus yang menyeret federasi tersebut.
“AFC sungguh konyol: Bagaimana mungkin Asosiasi Sepak Bola Malaysia bisa masuk dalam daftar kandidat peraih penghargaan Association of the Year, padahal pada 2025 mereka terbukti bersalah karena memalsukan kewarganegaraan tujuh pemain?” tulis Molina.
Molina menambahkan, keputusan itu seolah memberi dukungan terhadap korupsi dan tindakan yang melanggar aturan. Kritik tersebut mencuat di tengah perhatian publik terhadap proses pencalonan FAM dan persoalan tata kelola yang masih membayangi federasi Malaysia.
Nominasi FAM berlangsung di tengah sorotan kasus
Dalam kategori emas, FAM akan bersaing dengan Federasi Sepak Bola Seluruh India (AIFF) dan Asosiasi Sepak Bola Hong Kong (HKFA). Penghargaan AFC 2026 dijadwalkan berlangsung di Bangkok, Thailand, pada 19 November.
Media Malaysia Berita Harian menyoroti bahwa pencalonan tersebut tidak otomatis berarti persoalan tata kelola dan dokumentasi pemain di FAM telah selesai. Nominasi penghargaan dan penyelesaian kasus merupakan hal berbeda, terutama karena perkara tujuh pemain itu masih menjadi latar kritik terhadap federasi.
Kasus dokumentasi tersebut sebelumnya memicu tindakan dari Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) pada 2025. Persoalan itu berkaitan dengan tujuh pemain yang disebut dalam proses sanksi, yakni Facundo Garces, Rodrigo Holgado, Imanol Machuca, Joao Figueiredo, Gabriel Palmero, Jon Irazabal, dan Hector Hevel.
Perkara itu juga bergulir hingga Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS). Pada 5 Maret, CAS menolak banding FAM atas denda sebesar CHF350 ribu atau sekitar Rp7,6 miliar. Dalam putusan yang sama, CAS mengubah hukuman larangan bermain selama 12 bulan terhadap tujuh pemain tersebut.
Larangan itu berlaku untuk pertandingan kompetitif resmi, bukan seluruh aktivitas sepak bola mereka. Rincian sanksi tersebut menjadi bagian dari konteks yang membuat nominasi FAM kembali diperdebatkan.
Penghargaan AFC juga mencakup kategori lain
Penghargaan tahunan AFC memberikan pengakuan kepada federasi, pemain, dan pelaku sepak bola atas pencapaian serta kontribusi mereka terhadap perkembangan olahraga di Asia. Pada kategori Asosiasi Anggota Terbaik Tahun 2026 kategori berlian, nominasi diisi Federasi Sepak Bola Vietnam (VFF), Asosiasi Sepak Bola Thailand (FAT), dan Asosiasi Sepak Bola China (CFA).
Untuk kategori Badan Sepak Bola Regional Terbaik Tahun 2026, Federasi Sepak Bola ASEAN (AFF) bersaing dengan Asosiasi Sepak Bola Asia Tengah (CAFA) dan Federasi Sepak Bola Asia Selatan (SAFF). Sementara itu, PSSI masuk nominasi Penghargaan Pengakuan Presiden AFC untuk Sepak Bola Akar Rumput kategori perunggu, bersama Federasi Sepak Bola Kamboja (FFC) dan Federasi Sepak Bola Myanmar (MFF).
FAM sendiri pernah menerima penghargaan akar rumput kategori perak pada 2025. Pengakuan itu diberikan atas upaya pengembangan sepak bola akar rumput di Malaysia. Namun, capaian tersebut tidak serta-merta menghapus pertanyaan mengenai kasus dokumentasi pemain yang kini kembali menjadi perhatian.
Persaingan penghargaan juga meliputi kategori individu. Salem Al-Dawsari, yang menerima gelar Pemain Terbaik Tahunan AFC 2025, kembali masuk nominasi bersama Alireza Beiranvand dan Feras Al Brikan.
Dengan jadwal penghargaan yang telah ditetapkan di Bangkok, pencalonan FAM kemungkinan tetap menjadi bahan perdebatan hingga acara berlangsung. Publik akan menunggu apakah AFC memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai dasar penilaian nominasi, sementara sorotan terhadap tata kelola dan dokumentasi pemain di federasi Malaysia belum mereda.
