Barcelona dan Lamine Yamal datang ke Paris dengan modal sempurna: 11 kemenangan dari 11 pertandingan musim ini. Namun, laga Liga Champions melawan Paris Saint-Germain di Parc des Princes pada Selasa akan menjadi ukuran yang lebih tajam untuk menilai kekuatan mereka. Catatan kemenangan dan produktivitas tinggi belum menjawab pertanyaan penting: apakah Barcelona sudah cukup tangguh menghadapi juara Eropa?
Musim lalu, Blaugrana juga menyambut PSG dengan keyakinan besar. Pedri menyebut Barcelona sebagai tim terbaik di dunia, sedangkan Yamal mengatakan mereka punya “misi” untuk membuktikan diri dengan menjuarai Liga Champions. Hasil di lapangan justru menjadi pengingat bahwa klaim semacam itu harus dibuktikan saat pertandingan berlangsung.
PSG bangkit dari ketertinggalan dan menang 2-1 di Montjuic berkat gol Goncalo Ramos pada menit-menit akhir. Kemenangan itu terasa kian meyakinkan karena tim asuhan Luis Enrique datang tanpa lima pemain kunci, termasuk seluruh penyerang utama mereka.
Pelajaran dari kekalahan di Montjuic
Selepas pertandingan, Ramos menegaskan bahwa PSG adalah juara Eropa dan keberhasilan itu sudah menjadi jawaban mereka. Pelatih Barcelona, Hansi Flick, juga mengakui timnya belum berada pada level yang sama. Ia menilai para pemainnya tidak tampil cukup baik, baik ketika menguasai bola maupun saat bertahan.
Masalah yang paling membuat Flick kesal muncul menjelang akhir laga. Dalam kedudukan 1-1, Barcelona kehilangan struktur dan membiarkan Ramos mencetak gol kemenangan pada menit ke-90. Bagi Flick, timnya seharusnya bermain lebih cerdas, menutup ruang, dan menjaga disiplin sampai pertandingan berakhir.
“Saat bertahan dalam kedudukan 1-1, Anda harus bermain lebih cerdas menjelang akhir pertandingan, dan itu tidak terjadi,” ujar Flick.
Ia juga menyoroti cara PSG memanfaatkan ruang dan keinginan para pemainnya untuk terus meminta bola. Barcelona, menurut Flick, perlu belajar dari aspek-aspek tersebut. Kekalahan itu bukan sekadar soal satu gol telat, melainkan gambaran tentang perbedaan ketenangan dan struktur permainan pada saat krusial.
Hasil di Montjuic memang tidak merusak perjalanan Barcelona di liga domestik. Mereka kemudian menjuarai La Liga dengan keunggulan delapan poin atas Real Madrid, setelah mengalahkan rival tersebut di Camp Nou pada 10 Mei. Namun, keberhasilan di liga tidak otomatis menghapus persoalan yang terlihat di Eropa.
Produktivitas Barcelona belum menutup keraguan
Kerentanan pertahanan dan ketidakdisiplinan taktis masih menjadi perhatian sepanjang musim 2025-26. Barcelona tersingkir di perempat final Liga Champions setelah kalah agregat 3-2 dari Atletico Madrid. Dalam 12 pertandingan di kompetisi itu, mereka tidak sekali pun mencatatkan nirbobol.
Catatan tersebut menjelaskan mengapa rangkaian kemenangan saat ini belum cukup untuk menghilangkan keraguan. Barcelona memang mencetak 48 gol dalam 11 kemenangan beruntun di semua kompetisi, dengan rata-rata 4,4 gol per pertandingan pada musim ini. Angka itu menunjukkan daya serang yang menakutkan, tetapi laga melawan PSG akan menguji apakah mereka mampu menjaga keseimbangan ketika menghadapi lawan dengan kemampuan memanfaatkan celah.
Di sisi penyerangan, Flick memiliki sejumlah pilihan. Raphinha tampil luar biasa dan mampu mengisi kekosongan yang ditinggalkan Robert Lewandowski. Gabriel Jesus mulai memperlihatkan potensi sebagai opsi dari bangku cadangan, sementara Ferran Torres—yang bergabung dengan PSG pada Agustus—tak lagi tersedia bagi Barcelona.
Persaingan untuk dua tempat lain di lini depan juga memberi Flick keleluasaan. Fermin Lopez, Dani Olmo, Anthony Gordon, dan Karim Adeyemi bersaing mengisi posisi tersebut, sedangkan Yamal dan Raphinha diproyeksikan sebagai starter. Kedalaman itu memberi Barcelona pilihan untuk mengubah jalannya pertandingan, tetapi belum menjamin mereka mampu membongkar pertahanan PSG.
Duel di Paris menguji kematangan Blaugrana
Barcelona juga disebut telah mendatangkan Rodri, gelandang bertahan yang diharapkan bisa melindungi lini belakang. Kehadirannya berpotensi membantu mengatasi rapuhnya barisan empat bek, tetapi efektivitas perlindungan itu akan lebih jelas terlihat dalam pertandingan berintensitas tinggi seperti lawatan ke Parc des Princes.
Yamal akan menjadi salah satu pusat perhatian. Ia kembali menjadi bagian penting dari tim yang kini tampil sangat produktif, tetapi laga melawan PSG bukan hanya panggung untuk menunjukkan kemampuan menyerang. Barcelona perlu membuktikan bahwa mereka bisa menjaga bentuk permainan, bertahan sebagai satu kesatuan, dan tetap tenang ketika mendapat tekanan.
Hasil pertemuan ini belum tentu menentukan seluruh perjalanan Barcelona di Liga Champions. Namun, melawan tim yang musim lalu menunjukkan kemampuannya bangkit dan menghukum kelengahan, kemenangan beruntun saja tidak cukup menjadi jawaban. Bagi Barcelona, ujian di Paris adalah kesempatan untuk memperlihatkan bahwa mereka bukan sekadar tajam, melainkan juga matang.
