Nyeri perut yang berulang, asam lambung yang tak kunjung membaik, atau perubahan pola buang air besar sebaiknya tidak dibiarkan tanpa pemeriksaan. Dokter Spesialis Bedah Digestif Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Eko Priatno, mengingatkan evaluasi diperlukan untuk mencari penyebab keluhan dan menentukan penanganan yang sesuai.
Dalam keterangan di Jakarta, Selasa (20/10/2026), Eko menegaskan bahwa jenis terapi ditentukan berdasarkan kondisi pasien dan hasil pemeriksaan. Gangguan pencernaan tidak otomatis harus ditangani dengan operasi.
“Tidak semua gangguan pencernaan memerlukan operasi. Kami terlebih dahulu mencari penyebab keluhan dan mengevaluasi kondisi pasien, kemudian menentukan terapi yang paling sesuai,” kata Eko.
Pesan tersebut menempatkan pemeriksaan sebagai langkah awal, bukan tindakan bedah. Keluhan yang tampak serupa dapat membutuhkan penanganan berbeda, bergantung pada penyebab dan evaluasi medis masing-masing pasien.
Pemeriksaan menentukan penanganan gangguan pencernaan
Salah satu kondisi yang disebut Eko adalah gastroesophageal reflux disease (GERD), atau penyakit refluks asam lambung. Penanganannya umumnya dimulai dengan perubahan gaya hidup dan pemberian obat-obatan.
Jika keluhan tetap berlangsung meski terapi telah diberikan secara optimal, dokter dapat mengevaluasi kemungkinan tindakan antirefluks. Dengan demikian, tindakan lanjutan bukan pilihan pertama yang otomatis diberikan kepada setiap pasien dengan keluhan asam lambung.
Pendekatan serupa berlaku pada gangguan pencernaan lain: dokter mempertimbangkan temuan pemeriksaan sebelum menentukan langkah. Eko menyampaikan bahwa keputusan terapi perlu disesuaikan dengan kondisi pasien, bukan semata-mata berdasarkan jenis keluhan yang dirasakan.
Karena itu, nyeri perut yang terus berulang, keluhan refluks yang tak membaik, maupun perubahan kebiasaan buang air besar perlu dinilai oleh tenaga medis. Pemeriksaan membantu dokter memahami penyebabnya dan menyusun penanganan yang tepat.
Operasi dipertimbangkan sesuai kondisi pasien
Pada batu empedu yang sudah menimbulkan keluhan atau komplikasi, salah satu pilihan penanganannya adalah operasi pengangkatan kantong empedu dengan teknik laparoskopi. Prosedur bedah minimal invasif ini menggunakan sayatan kecil dan, pada pasien tertentu, dapat memungkinkan pemulihan lebih cepat.
Untuk kanker rektum, dokter dapat mempertimbangkan teknik Intersphincteric Resection (ISR). Prosedur ini bertujuan mengangkat kanker sambil mempertahankan fungsi anus apabila kondisi memungkinkan.
Namun, upaya mempertahankan fungsi organ tetap harus berjalan seiring dengan keselamatan pasien dan pengangkatan kanker sesuai prinsip medis. Eko mengatakan kedua hal tersebut menjadi pertimbangan dalam menentukan tindakan.
“Pada kanker rektum, kami berupaya mempertahankan fungsi organ bila kondisi memungkinkan. Namun, keamanan pasien dan pengangkatan kanker sesuai prinsip medis tetap menjadi prioritas,” ujar Eko.
Pilihan operasi lain dapat digunakan pada kasus yang lebih kompleks. Untuk tumor tertentu di kepala pankreas, saluran empedu, atau usus dua belas jari, operasi Whipple dapat menjadi salah satu opsi. Prosedur ini melibatkan pengangkatan bagian organ yang terdampak, kemudian penyambungan kembali saluran pencernaan.
Keputusan medis melibatkan evaluasi dan perencanaan
Kelayakan menjalani tindakan tidak ditentukan hanya dari nama penyakit. Menurut Eko, keputusan diambil berdasarkan hasil pemeriksaan dan perencanaan bersama tim medis. Artinya, pilihan terapi dapat berbeda antara satu pasien dan pasien lain, meski keluhannya tampak serupa.
Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Margareth Aryani Santoso, MARS, mengatakan pelayanan gangguan pencernaan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan teknologi atau kemampuan menangani kasus kompleks. Ketepatan diagnosis, keselamatan, kenyamanan, serta kebutuhan setiap pasien juga menjadi bagian penting dari pelayanan.
Dengan beragam pilihan penanganan—mulai dari perubahan gaya hidup dan obat hingga tindakan bedah—pemeriksaan menjadi dasar untuk menentukan langkah yang proporsional. Bagi masyarakat yang mengalami keluhan berulang atau tidak membaik, konsultasi dengan dokter dapat membantu memastikan penyebabnya lebih dahulu, sebelum terapi diputuskan.
